AKu ingat waktu itu pertama kali mendatangimu belum melewati sepertiga malam. Yang bagi orang spesial seperti kamu adalah waktu yang tabu untuk didatangi. Kamu memang tak melayaniku tapi menyiratkan harapan keesokan harinya. Waktu berjalan dan aku merasa ada yang aneh dengan diri ini. Berkali aku ingin bersua, tapi sebanyak itu pula engkau menundanya.
Aku berharap di hari kemenangan umat Muhammad kita bisa melepas rindu yang telah membuncah. Tapi apa daya, dengan jarak yang semakin dekatpun kamu tidak memberi kesmpatan itu. Aku masih bersabar, demi kamu. Dan di ujung tahun kemarin aku memutuskan untuk tidak menunggumu, terlalu lama dan berharap sesuatu yang tak pasti. Bisa-bisa aku jadi gila….!
Tapi, saat kamu tak berada di impianku lagi, kamu malah datang menyapa. Gairah itu pun muncul lagi. Janji sebelas januari, seperti kata GIGI yang ingin aku tetapkan sebagai hari bersejarah kita berlalu begitu saja. Hari ini, empat belas februari aku yakin akan menghampirimu tapi kamu hilang bak ditelan bumi.
Haruskah kali aku benar-benar melupakanmu dan memberi jalan bagi yang lain? Atau ku tunggu? Tapi sampai kapan?
* Buat seseorang di kota ini …. i really miss u….